Rabu, 12 Juni 2019

Tak diterima di sekolah terdekat

Menengok kebelakang ada baiknya dan juga penting, ini bisa digunakan untuk tidak mengulangi kesalahan yang serupa toh kalau itu dianggap salah dan kadang harus diulang atau mungkin sangat harus kalau itu dianggap menguntungkan berbagai pihak.
Hal ini berkenaan dengan sekolah yang sekarang sangat hangat diperbincangkan oleh orang tua terutama ibu-ibu yang sangat dekat dengan anaknya. Aturan zonasi yang berdàmpàk baik karena untuk meratakan peserta didik supaya tidak menumpuk di salah satu sekolah apalagi yang dianggap favorit. Tapi bagi sebagian orang tua dianggap merugikan karena memberi ruang sempit untuk anaknya melanjutkan sekolah. Aturan tidak sertà merta akan diterima secara utuh baik oleh pihak sekolah selaku penyelenggara langsung pendidikan atau pun orang tua yang langsung merasakan langsung aturan itu. Banyak kendala dan benturan saat aturan itu diterapkan
Masalah melanjutkan pendidikan tak akan pernah selesai selama masih ada yang anak yang melanjutkan sekolah. Hal ini sudah sangat terasa sejak dahulu kala. Ada cerita tentang melanjutkan sekolah tapi bukan masalah zonasi karena dahulu belum kenal istilah zonasi. Ada anak bernama Sahla dia putra sulung dari seorang guru yang mengajar di sebuah sekolah dasar. Sahla sendiri lulusan TK yang tak murah di kecamatan itu dan sudah mampu baca buku dan siap lanjut Al Quran karena sudah lulus iqro 6, ditambah mendapat peringkat satu di TK tersebut. Melihat usia 6 tahun lebih bila dilihat dari awal masuk tahun ajaran baru. Masalah yang dihadapi ibunya mendaftarkan Sahla di tempat dia mengajar tapi tidak diterima oleh kepala sekolahnya. Apa kendalanya?
Dengan desakan dan argumen yang tak sedikit akhirnya kepala sekolah baru mau menerimanya itu pun dengan urutan hampir jadi pendaftar terakhir, sangat sedih.
Ada cerita yang dialami Hana yang tak diterima di sekolah yang letaknya dekat dengan rumahnya, kurang lebih 100m. Melihat usia sudah mendekati tujuh tahun, usia yang sudah sangat cukup dari seharusnya. Tapi alasan apa yang menjadi ganjalan tidak bisa diterima di sekokah tersebut Hana sendiri tidak tahu. Mendekati usia 8 tahun Hana pun di di daftarkan di sekolah yang jauh dengan jarak kurang lebih 1km dan harus menyebrang jalan kabupaten. Sangat ironis memang. Pengalaman ini juga dialami  oleh teman Hana yang rumahnya bersebelahan, terpaksa sekokahnyapun lebih jauh lagi dari Hana.
Konten hampir sama dengan masalah berbeda dan alasan berbeda.
Masalah pendidikan dibuat mudah jadi mudah, dibuat sulit jadi tambah pelik. Semoga tidak dialami anak-anak kita dijaman sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

http://www.pramukacianjur.or.id/2020/11/edaran-kursus-keterampilan-berbasis-it.html   Kwarcab Cianjur hari ini Rabu masih berangsung Kursus ...