Kamis, 27 Juni 2019

Masih ada pelangi

Sejak suami pergi dari rumah kontrakan  dengan perempuan lain Bu Hana jadi orang tua tunggal. Dia ingat pertama  datang ke kontrakan suaminya bermaksud untuk mengunjungi tempat tugas suami yang baru yang sudah satu tahun pindah ke kota. Tapi kenyataan berkata lain. Dia harus menerima kenyataan suami bersama perempuan lain. Dia pertama datang ke kontrakan dihadapi pemandangan aneh, pertama kontrakan suaminya terlihat rapi seperti ada yang mengatur, kedua adanya botol-botol bekas kecantikan wanita, sementara dirinya baru bisa mengunjungi setelah satu tahun ajaran dan pada waktu libur kenaikkan kelas.

Selama empat hari berada di kontrakan suaminya matanya tidak diam dia mencari bukti yang pasti dan menyakinkan bahwa suaminya bermain perempuan lain. Pada saat hari keempat itu Bu Hana ingin membereskan lemari baju suaminya karena esoknya akan melanjutkan perjalanan menuju tempat tugasnya yang masih di daerah pelosok,  dan pada saat melihat tumpukan baju pada tahap ketiga dari atas dia heran tumpukan baju tidak rapi dan rada aneh tumpukannya. Tangan  Dia cepat mengambil tumpukan baju bagian tengah untuk dibereskan dan baru saja tumpukàn baju diangkat terlihat di belakang baju yang diambil ada tumpukan baju wanita, sontak Bu Hana kaget dengan padangan di depanya yang tak menyangka suami berani melakukan dibelakangnya dan hal itu di kontrakan selama setahun pindah.

Dia baru menyadari  uang tabungan yang dipinjam suami sampai habis apa ada hubungan nya dengan semua masalah yang dihadapi. Suaminya  pinjam uang tabungan yang niatnya untuk usaha sampai dihabiskan dan tak bersisa. Sekarang baru terjawab ternyata uangnya dipakai suaminya untuk foya-foya bersama perempuan itu. Memang pada saat minta tanda tangan untuk mengambil uang dengan alasan untuk usaha tapi kandas dan bersisa sandal sepasang itupun dengan ukuran besar dan tak mungkin bisa dipakai. Sandal itupun dibeli tetangga yang akhirnya di gratiskan.

Meninggalkan keluarga tidak ada kata terucap dari mulutnya di depan Bu Hana. Masalah anak, masalah harta dan masalah lainnya tak dibicarakan. Bu Hana dan kedua anak yang masih balita ditinggalkan begitu saja di daerah orang tanpa saudara dari kedua belah pihak. Selain tabungan pribadi  yang dihabiskan juga hewan piaraan yang dimiliki tak dapat bagian pula. Untung gaji Bu Hana bulan itu sudah mulai utuh karena selama hidup rumah tangga separoh gajinya dipotong pihak bank untuk  hutang suaminya, dan separoh sisanya untuk makan satu bulan itupun masih kurang.

Hidup rumah tangga Bu Hana seusia pinjaman di bank. Sebelum menikah SKnya dipinjam calon suaminya. Janjinya gajinya akan utuh. Kenyataannya setelah menikah lain, bukannya utuh tapi habis tak bersisa, setengah dipotong bank setengah untuk makan. Kehidupan rumah tangga semakin panas. Bu Hana selalu dibuat bingung dengan kenyataan hidupnya. Dia dan suami sama-sama kerja tapi hidup susah, dia masih harus kerja sampingan. Dagang makanan dan alat-alat tulis untuk anak-anak sekolah. Bu Hana kerja tapi untuk beli baju harus menunggu 3 bulan, untuk beli sepatu untuk kerjapun harus menunggu 3 bulan pula. Bu Hana menangis saat anak pertama lahir dibelikan celana untuk gantinya dari bahan yang berbeda antara kiri dan kanan alias dari obralan atau bahan sisa.

Kehidupan rumah tangga berjalan penuh onak dan duri. Duri menusuk dari belakang. Perempuan yang bermain dengan suaminya bekas murid suaminya. Bu Hana pun menganggap tamu kalau datang ke rumah. Tapi tidak tahu ada janji di belakang Bu Hana. Pindahnya suami ke kota ternyata untuk lebih leluasa menjalin hubungan, dan saling berkunjung. Bu Hana tahu dari tetangga kontrakan mantan suaminya. Perempuan itu sering berkunjung kalau sabtu sore, kadang juga Bapak sudah tidak ada Sabtu siang, kata tetangga. Tapi kenyataan sampai di tempat istrinya Minggu siang. Tanda tanya dibenak Bu Hana mulai terjawab.

Nasi sudah jadi bubur, ibarat jatuh ditimpa tangga. Itulah kenyataan hidup Bu Hana. Anak-anak masih kecil, jauh dari saudara. Dia tidak pindah dan keluar dari kontrakan bekas mantan suaminya. Semua barang yang ada di kontrakan mantan suaminya yang sudah hancur dibuang. Dia tidak punya apa-apa. Mulai hidup baru merintis dari sakit yang teramat sakit. Awal hidupnya mengandalkan uluran tangan orang. Hati remuk ditambah dua balita yang tak tahu apa-apa harus menelan obat pahit.

Tiga bulan hidupnya ikut dengan teman mantan suaminya yang baru dikenal.  Mantan suaminya dulu pindah katanya ikut dengan Dia tapi  ternyata tidak begitu. Mantan suami punya rencana lain. Kuliah tidak, usaha hancur tapi ternyata main perempuan. Hal itulah yang membuat teman mantan suaminya tidak terlalu dekat. Tapi yang dekat malah Bu Hana dan kedua balitanya. Bu Hana ibarat mendaoat payung saat hujan ketemu dengan keluarga teman mantan suaminya yang ternyata bernama Pak Badri dan Bu Eti. Mereka sangat baik walau masih hidup di perumahan sekolah tapi menerimanya dengan tangan terbuka.

Bu Hana hidup bagai bayi yang baru merangkak. Waktu berjalan dibuat obat hati dan membesarkan kedua balita. Kerjapun kadang diberi keringanan oleh kepala sekolah dimana dia mengajar. Tiga bulan hidup bersama keluarga Pak Badri terasa api yang membakar semangat hidupnya. Kini saatnya pulang ke kontrakan yang sudah ditinggalkan tiga bulan. Berbenah hidup tak cukup waktu sebentar. Bu Hana menjalani hidup hidup dengan penuh semangat walau menjelang malam berurai air mata mengingat nasib yang menimpanya, apalagi kalau memandang kedua balita yang tak berdosa tidur disampingnya.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

http://www.pramukacianjur.or.id/2020/11/edaran-kursus-keterampilan-berbasis-it.html   Kwarcab Cianjur hari ini Rabu masih berangsung Kursus ...