Senin, 17 Juni 2019

Mendali

Pukul tujuh pagi dengan motor gigi mengantar si bungsu ke sekolah. Di jalan ketemu dengan penggarap sawah yang kebetulan akan pergi ke rumah saudaranya yang rumahnya searah dengan sekolah  si bungsu. Beliau meminta agar si bungsu dibawanya karena searah. Akhirnya si bungsu pergi sekolah bersama Bah Udung. Bah Udung nama penggarap sawah yang sudah lima tahun bekerja untuk menggarap sawah yang hasilna dibagi dua.

Ibunya langsung ke jalan raya dengan menembus antrian motor yang siap menuju tempat kerja masing-masing. Terpaksa pergi ke jalan raya dulu yaitu ke toko piala karena ada yang sangat penting yang harus dibereskan sebelum ke sekolah. Sampai toko yang dituju toko masih tutup karena jam di hp baru menunjukan pukul tujuh tiga puluh. Pagi-pagi terpaksa menuju toko yang menjadi satu-satunya harapan untuk memesan mendali peringkat kelas. Mendali peringkat adalah ide lama tapi baru teringat saat mendekati acara kenaikan kelas. Pesan mendadak itulah yang jadi pikiran karena takut tidak diterima sehingga tidàk bisa diberikan kepada para peringkat kelas. Hadiah buku yang sudah jadi tradisi tiap tahun memang sudah disiapkan. Untuk tahun ini ingin mencoba ada tambahan berupa mendali.

Sejak kemarin mencoba mencari toko yang biasa membuat mendali. Ada toko yang tidak sanggup karena waktunya terlalu singkat. Ada juga toko biasa buat mendali kejuaraan tapi tidak menerima mendali peringkat. Ada juga yang tutup karena hari minggu. Harapan ingin mengalungkan mendali pada para peringkat kelas akankah gagal?

Hari ini mencoba mendatangi toko yang kemarin hari  Minggu tutup. Harapan semoga mau menerima pesanan mendali walau waktu yang sempit. Mencoba perlu karena toko punya ciri masing-masing untuk mencari pelanggan. Pukul tujuh tiga puluh  sudah sampai di depan toko yang dimaksud dan ternyata masih tutup. Duduk-duduk di depan toko dengan harap bisa buka tepat waktu. Menunggu agak bosan. Sambil duduk menanyakan pada penjual baso yang mangkal di depan toko itu. Kata penjual baso sebentar lagi. Hampir satu jam menunggu tak kunjung buka juga. Ada penjual lotek yang baru datang tak lupa menanyakan tentang toko itu. Jawabnya sebentar lagi katanya.

Sedang asyik menulis di blogger terdengar suara kunci dibuka sontak menoleh toko itu dan melirik jam dijital pada hp menunjukan pukul delapan tiga puluh lima. Menunggu pelayan toko merapikan toko terasa agak lama. Ingin tahu jawaban langsung dari pelayan toko akan kesiapan menerima pesanan mendali peringkat terasa sangat lama. Toko sudah terlihat rapi ibu itu langsung menghampiri pelayan untuk pesan mendali  yang diharapkan. Pelayan kemudian menggunakan  hp untuk menghubungi pekerja yang menggarap mendali langsung. Agak lama juga pelayan itu menghubungi pekerja.

Sambil menunggu pelayan menghubungi pekerja, Ibu itu menulis pengalaman hari itu pada bloggernya. Sekali-kali berdoa agar pesanan mendali bisa siterima. Agak lama juga menunggu jawaban pasti. Ibu mulai cemas. Adakah mengalungkan mendali pada para peringkat akan gagal tahun sekarang. Saat anteng menulis pengalaman hari itu, tiba-tiba pelayan celetuk yang membuyarkan ide tulisannya.

"Bu, katanya bisa," Kata pelayan itu dengan penuh kesungguhan.
"Bisa Mba?" Kata ibu dengan nada tak percaya.
"Iya, bisa," jawab pelayan sambil senyum.
"Alhamdulillah, jadi juga membagikan mendali pada para peringkat," ucap ibu itu dengan penuh rasa syukur.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

http://www.pramukacianjur.or.id/2020/11/edaran-kursus-keterampilan-berbasis-it.html   Kwarcab Cianjur hari ini Rabu masih berangsung Kursus ...