Selasa, 16 Juli 2019

Air Mata

Rasa bersemayam di dada
Gemuruh dada sangat terasa
Sakit sedih senang tampak pada raut muka
Kadang bendungan air mata berkata
Berkata dengan bahasanya
Bahasa duka menangis
Bahasa sedih apalagi
Bahasa suka kadang air mata turut hadir

Air mata bahagia indah di dada
Dada terasa lega dan teramat sangat
Tak terbayar dengan kata-kata
Seakan dunia miliknya
Ingin selamanya ada pada suka
Tapi

Air mata milik jiwa yang sedih
Terpisah dengan seharusnya
Terpisah kadang terpaksa
Terpisah atas takdirnya

Air mata ini deras mengalir
Tak terbendung dengan seka
Tak tertahan dengan malu
Bebas beban
Tumpah seketika
Suasana tak direka
Asli adanya
Kenangan yang tak terlupa
Akan tinggal sisa
Hanya air mata yang berkata
Semoga air mata obat adanya
Obat menenang dada
Keluar dari beban
Ringan

bjb, Rabu, 17 Juli 2019, 13:42
menunggu antrian no. A.119

Sabtu, 29 Juni 2019

Pakansi

Pakansi tahun ini ada
Ada kitab warta ada kitab rupa
Kitab warta tak suka semua
Kitab rupa tak sedih belaka

Banyak torehan makna
Makna berujung bahagia
Makna harus pandai membaca
Baca bukan dengan napsu
Takut jadi keliru
Baca dengan hati nurani
Semoga hasil teruji

Walau banyak onak dan duri
Semua ujian Ilahi
Pandai saja sikapi
Banyak penuh syukuri
Robb akan lindungi
Sampai kapanpun
Walau di manapun
Jangan saksi
Serahkan pasrahkan

Pakansi ini
Semoga dapat renungan arti
Pelajaran tuk tahu diri
Jadi manusia tahan uji
Langkahnya semakin terpuji
Hati bagai berlian abadi
Semakin tunduk pada Ilahi

Sabtu, 29 Juni 2019, 15:12

Kata Pengantar

Ahlamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah kepada pribadi penulis sehingga bersama dengan ayunan pena yang belum kuat, bersama bahasa yang belum indah, bersama puisi-puisi yang belum sempurna dan layak  tapi dengan semangat penulis  punya dapat mewujudkan buku kumpulan puisi yàng berjudul "........"

Buku kumpulan puisi bukan kumpulan puisi yang indah dalam arti puisi sebenarnya, tapi hanya coretan-coretan atas curahan ketidak nyamanan hàti, kesenangan hati, ingat suatu kata kadang jadi ide, merasakan sesuatu timbul harapan. Semua ide  tak jauh dari kehidupan penulis. Kata-kata yang teruntai jadi kalimat dan beujung puisi sangat jauh dari diksi yang dihàrapkan. Tàpi harapan besar untuk jadi buku kumpulan puisi.

Buku kumpulan puisi ini sangat jauh dari baik dan sempurna suatu puisi. Harapan penulis sumbang saran dan ide untuk terciptanya puisi-puisi yang hebat dengan diksi yang lebih mantap. Sehingga lahir puisi mahal dan sarat makna yang bisa jadi karya puisi dalam arti sesungguhnya.

Terima kasih tak terhingga pada keluarga, rekan kerja dan pada grup literasi terutama pada Bunda Miss yang dengan sabar membimbing dan memotivasi kami untuk senantiasa menulis dan terutama pada penulis sendiri untuk merampungkan puisi-puisi dan mengumpulkan sehingga terwujudlah buku kumpulan puisi ini.

Semoga buku kumpulan puisi ini bisa bicara sebagai sumbang ide tuk lahirnya penulis muda dan tuk merakyatnya dunia literasi yang kita dengungkan dan semoga gaungnya lebih indah dari kumpulan puisi ini. Aamiin.

Puncak Haji

Baju putih tak berwarna
Menutup tubuh sang makhluk
Berjalan menuju Robbnya
Tak ada makhluk pengganti
Sendiri dan harus sendiri
Harus tunduk dan pasrah
Iman yang berkata
Panas terik tak dirasa
Hanya ingat akan dosa
Tuk  mencari ridho-Nya

Berjuta  tertarik magnit
Magnit Ilahi yang maha dahyat
Semua menuju tak mau berpaling
Satu langkah tuk Robb pemilik alam
Pada Dzulhijjah bulan mulia
Dari penjuru dunia tuk raih sepuluh Dzuhijjah
Puncak hamba di wisuda di Arafah
Lepas matahari di puncak panas
Manusia di satu titik satu waktu satu tempat Padang Arafah
Padang Arafah bagai dipadang mahgsyar
Arafah masih ada naungan Allah lewat tenda
Adakah naungan di mahgsyar sesungguhnya
Semoga Arafah jadi saksi di padang mahgsyar kelak

Arafah di hujani air
Arafah dihembus angin
Arafah disapu debu
Bersama berbicara satu waktu
Menjerit berlari bertasbih
Mohon perlindungan
Allah masih sayang
Tak runtuh tenda naungan
Masih selamat dari ujian
Adakah nanti saatnya masih bisa selamat
Semoga Arafah jadi penyelamat

Puncak haji yang maha dahsyat
Ujian iman pada makhluk-Nya
Semoga jadi pelajaran berharga
Tak semua bisa merasakan
Tak semua bisa mendapatkan
Tak semua bisa datang
Tak semua dapat undangan
Tangis bahagia bagi tamu undangan
Undangan pribadi Allah
Tak semua di undang
Hanya manusia pilihan
Semoga Arafah pengantar jannah

Mekkah, 18 Agustus 2018


Kamis, 27 Juni 2019

Masih ada pelangi

Sejak suami pergi dari rumah kontrakan  dengan perempuan lain Bu Hana jadi orang tua tunggal. Dia ingat pertama  datang ke kontrakan suaminya bermaksud untuk mengunjungi tempat tugas suami yang baru yang sudah satu tahun pindah ke kota. Tapi kenyataan berkata lain. Dia harus menerima kenyataan suami bersama perempuan lain. Dia pertama datang ke kontrakan dihadapi pemandangan aneh, pertama kontrakan suaminya terlihat rapi seperti ada yang mengatur, kedua adanya botol-botol bekas kecantikan wanita, sementara dirinya baru bisa mengunjungi setelah satu tahun ajaran dan pada waktu libur kenaikkan kelas.

Selama empat hari berada di kontrakan suaminya matanya tidak diam dia mencari bukti yang pasti dan menyakinkan bahwa suaminya bermain perempuan lain. Pada saat hari keempat itu Bu Hana ingin membereskan lemari baju suaminya karena esoknya akan melanjutkan perjalanan menuju tempat tugasnya yang masih di daerah pelosok,  dan pada saat melihat tumpukan baju pada tahap ketiga dari atas dia heran tumpukan baju tidak rapi dan rada aneh tumpukannya. Tangan  Dia cepat mengambil tumpukan baju bagian tengah untuk dibereskan dan baru saja tumpukàn baju diangkat terlihat di belakang baju yang diambil ada tumpukan baju wanita, sontak Bu Hana kaget dengan padangan di depanya yang tak menyangka suami berani melakukan dibelakangnya dan hal itu di kontrakan selama setahun pindah.

Dia baru menyadari  uang tabungan yang dipinjam suami sampai habis apa ada hubungan nya dengan semua masalah yang dihadapi. Suaminya  pinjam uang tabungan yang niatnya untuk usaha sampai dihabiskan dan tak bersisa. Sekarang baru terjawab ternyata uangnya dipakai suaminya untuk foya-foya bersama perempuan itu. Memang pada saat minta tanda tangan untuk mengambil uang dengan alasan untuk usaha tapi kandas dan bersisa sandal sepasang itupun dengan ukuran besar dan tak mungkin bisa dipakai. Sandal itupun dibeli tetangga yang akhirnya di gratiskan.

Meninggalkan keluarga tidak ada kata terucap dari mulutnya di depan Bu Hana. Masalah anak, masalah harta dan masalah lainnya tak dibicarakan. Bu Hana dan kedua anak yang masih balita ditinggalkan begitu saja di daerah orang tanpa saudara dari kedua belah pihak. Selain tabungan pribadi  yang dihabiskan juga hewan piaraan yang dimiliki tak dapat bagian pula. Untung gaji Bu Hana bulan itu sudah mulai utuh karena selama hidup rumah tangga separoh gajinya dipotong pihak bank untuk  hutang suaminya, dan separoh sisanya untuk makan satu bulan itupun masih kurang.

Hidup rumah tangga Bu Hana seusia pinjaman di bank. Sebelum menikah SKnya dipinjam calon suaminya. Janjinya gajinya akan utuh. Kenyataannya setelah menikah lain, bukannya utuh tapi habis tak bersisa, setengah dipotong bank setengah untuk makan. Kehidupan rumah tangga semakin panas. Bu Hana selalu dibuat bingung dengan kenyataan hidupnya. Dia dan suami sama-sama kerja tapi hidup susah, dia masih harus kerja sampingan. Dagang makanan dan alat-alat tulis untuk anak-anak sekolah. Bu Hana kerja tapi untuk beli baju harus menunggu 3 bulan, untuk beli sepatu untuk kerjapun harus menunggu 3 bulan pula. Bu Hana menangis saat anak pertama lahir dibelikan celana untuk gantinya dari bahan yang berbeda antara kiri dan kanan alias dari obralan atau bahan sisa.

Kehidupan rumah tangga berjalan penuh onak dan duri. Duri menusuk dari belakang. Perempuan yang bermain dengan suaminya bekas murid suaminya. Bu Hana pun menganggap tamu kalau datang ke rumah. Tapi tidak tahu ada janji di belakang Bu Hana. Pindahnya suami ke kota ternyata untuk lebih leluasa menjalin hubungan, dan saling berkunjung. Bu Hana tahu dari tetangga kontrakan mantan suaminya. Perempuan itu sering berkunjung kalau sabtu sore, kadang juga Bapak sudah tidak ada Sabtu siang, kata tetangga. Tapi kenyataan sampai di tempat istrinya Minggu siang. Tanda tanya dibenak Bu Hana mulai terjawab.

Nasi sudah jadi bubur, ibarat jatuh ditimpa tangga. Itulah kenyataan hidup Bu Hana. Anak-anak masih kecil, jauh dari saudara. Dia tidak pindah dan keluar dari kontrakan bekas mantan suaminya. Semua barang yang ada di kontrakan mantan suaminya yang sudah hancur dibuang. Dia tidak punya apa-apa. Mulai hidup baru merintis dari sakit yang teramat sakit. Awal hidupnya mengandalkan uluran tangan orang. Hati remuk ditambah dua balita yang tak tahu apa-apa harus menelan obat pahit.

Tiga bulan hidupnya ikut dengan teman mantan suaminya yang baru dikenal.  Mantan suaminya dulu pindah katanya ikut dengan Dia tapi  ternyata tidak begitu. Mantan suami punya rencana lain. Kuliah tidak, usaha hancur tapi ternyata main perempuan. Hal itulah yang membuat teman mantan suaminya tidak terlalu dekat. Tapi yang dekat malah Bu Hana dan kedua balitanya. Bu Hana ibarat mendaoat payung saat hujan ketemu dengan keluarga teman mantan suaminya yang ternyata bernama Pak Badri dan Bu Eti. Mereka sangat baik walau masih hidup di perumahan sekolah tapi menerimanya dengan tangan terbuka.

Bu Hana hidup bagai bayi yang baru merangkak. Waktu berjalan dibuat obat hati dan membesarkan kedua balita. Kerjapun kadang diberi keringanan oleh kepala sekolah dimana dia mengajar. Tiga bulan hidup bersama keluarga Pak Badri terasa api yang membakar semangat hidupnya. Kini saatnya pulang ke kontrakan yang sudah ditinggalkan tiga bulan. Berbenah hidup tak cukup waktu sebentar. Bu Hana menjalani hidup hidup dengan penuh semangat walau menjelang malam berurai air mata mengingat nasib yang menimpanya, apalagi kalau memandang kedua balita yang tak berdosa tidur disampingnya.





Senin, 17 Juni 2019

Mendali

Pukul tujuh pagi dengan motor gigi mengantar si bungsu ke sekolah. Di jalan ketemu dengan penggarap sawah yang kebetulan akan pergi ke rumah saudaranya yang rumahnya searah dengan sekolah  si bungsu. Beliau meminta agar si bungsu dibawanya karena searah. Akhirnya si bungsu pergi sekolah bersama Bah Udung. Bah Udung nama penggarap sawah yang sudah lima tahun bekerja untuk menggarap sawah yang hasilna dibagi dua.

Ibunya langsung ke jalan raya dengan menembus antrian motor yang siap menuju tempat kerja masing-masing. Terpaksa pergi ke jalan raya dulu yaitu ke toko piala karena ada yang sangat penting yang harus dibereskan sebelum ke sekolah. Sampai toko yang dituju toko masih tutup karena jam di hp baru menunjukan pukul tujuh tiga puluh. Pagi-pagi terpaksa menuju toko yang menjadi satu-satunya harapan untuk memesan mendali peringkat kelas. Mendali peringkat adalah ide lama tapi baru teringat saat mendekati acara kenaikan kelas. Pesan mendadak itulah yang jadi pikiran karena takut tidak diterima sehingga tidàk bisa diberikan kepada para peringkat kelas. Hadiah buku yang sudah jadi tradisi tiap tahun memang sudah disiapkan. Untuk tahun ini ingin mencoba ada tambahan berupa mendali.

Sejak kemarin mencoba mencari toko yang biasa membuat mendali. Ada toko yang tidak sanggup karena waktunya terlalu singkat. Ada juga toko biasa buat mendali kejuaraan tapi tidak menerima mendali peringkat. Ada juga yang tutup karena hari minggu. Harapan ingin mengalungkan mendali pada para peringkat kelas akankah gagal?

Hari ini mencoba mendatangi toko yang kemarin hari  Minggu tutup. Harapan semoga mau menerima pesanan mendali walau waktu yang sempit. Mencoba perlu karena toko punya ciri masing-masing untuk mencari pelanggan. Pukul tujuh tiga puluh  sudah sampai di depan toko yang dimaksud dan ternyata masih tutup. Duduk-duduk di depan toko dengan harap bisa buka tepat waktu. Menunggu agak bosan. Sambil duduk menanyakan pada penjual baso yang mangkal di depan toko itu. Kata penjual baso sebentar lagi. Hampir satu jam menunggu tak kunjung buka juga. Ada penjual lotek yang baru datang tak lupa menanyakan tentang toko itu. Jawabnya sebentar lagi katanya.

Sedang asyik menulis di blogger terdengar suara kunci dibuka sontak menoleh toko itu dan melirik jam dijital pada hp menunjukan pukul delapan tiga puluh lima. Menunggu pelayan toko merapikan toko terasa agak lama. Ingin tahu jawaban langsung dari pelayan toko akan kesiapan menerima pesanan mendali peringkat terasa sangat lama. Toko sudah terlihat rapi ibu itu langsung menghampiri pelayan untuk pesan mendali  yang diharapkan. Pelayan kemudian menggunakan  hp untuk menghubungi pekerja yang menggarap mendali langsung. Agak lama juga pelayan itu menghubungi pekerja.

Sambil menunggu pelayan menghubungi pekerja, Ibu itu menulis pengalaman hari itu pada bloggernya. Sekali-kali berdoa agar pesanan mendali bisa siterima. Agak lama juga menunggu jawaban pasti. Ibu mulai cemas. Adakah mengalungkan mendali pada para peringkat akan gagal tahun sekarang. Saat anteng menulis pengalaman hari itu, tiba-tiba pelayan celetuk yang membuyarkan ide tulisannya.

"Bu, katanya bisa," Kata pelayan itu dengan penuh kesungguhan.
"Bisa Mba?" Kata ibu dengan nada tak percaya.
"Iya, bisa," jawab pelayan sambil senyum.
"Alhamdulillah, jadi juga membagikan mendali pada para peringkat," ucap ibu itu dengan penuh rasa syukur.


Jumat, 14 Juni 2019

Cilok

Tepung kanji bersatu dengan terigu
Diaduk dengan air hangat sampai lumat
Adukan harus kalis
Campuran harus seimbang
Agar adonan enak di lidah
Susah-susah mudah
Mudah-mudah susah
Banyak kanji jadi keras
Banyak terigu jadi lembek
Harus ada uji coba
Tak cukup sekali
Perlu diulang
Tuk hasil yang mantap
Plus istimewa
Cilok idola
Jadi satu usaha
Janjikan asa
Warnai pelangi
Indahnya dunia bisnis
Cilok cilok cilok
Sudah familier
Dikalangan halayak
Satu makanan ringan
Cobaku buatan sendiri
Entah kali berapa
Hasil belum mantap
Masih ada kurangnya
Tak mudah walau sederhana
Butuh hati tuk mengolahnya
Agar satu rasa
Cilok

Sabtu, 15 Juni 2019, 07 : 21
Pengalaman buat cilok yang belum juga mencapai rasa istimewa


http://www.pramukacianjur.or.id/2020/11/edaran-kursus-keterampilan-berbasis-it.html   Kwarcab Cianjur hari ini Rabu masih berangsung Kursus ...