Sabtu, 29 Juni 2019

Pakansi

Pakansi tahun ini ada
Ada kitab warta ada kitab rupa
Kitab warta tak suka semua
Kitab rupa tak sedih belaka

Banyak torehan makna
Makna berujung bahagia
Makna harus pandai membaca
Baca bukan dengan napsu
Takut jadi keliru
Baca dengan hati nurani
Semoga hasil teruji

Walau banyak onak dan duri
Semua ujian Ilahi
Pandai saja sikapi
Banyak penuh syukuri
Robb akan lindungi
Sampai kapanpun
Walau di manapun
Jangan saksi
Serahkan pasrahkan

Pakansi ini
Semoga dapat renungan arti
Pelajaran tuk tahu diri
Jadi manusia tahan uji
Langkahnya semakin terpuji
Hati bagai berlian abadi
Semakin tunduk pada Ilahi

Sabtu, 29 Juni 2019, 15:12

Kata Pengantar

Ahlamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah kepada pribadi penulis sehingga bersama dengan ayunan pena yang belum kuat, bersama bahasa yang belum indah, bersama puisi-puisi yang belum sempurna dan layak  tapi dengan semangat penulis  punya dapat mewujudkan buku kumpulan puisi yàng berjudul "........"

Buku kumpulan puisi bukan kumpulan puisi yang indah dalam arti puisi sebenarnya, tapi hanya coretan-coretan atas curahan ketidak nyamanan hàti, kesenangan hati, ingat suatu kata kadang jadi ide, merasakan sesuatu timbul harapan. Semua ide  tak jauh dari kehidupan penulis. Kata-kata yang teruntai jadi kalimat dan beujung puisi sangat jauh dari diksi yang dihàrapkan. Tàpi harapan besar untuk jadi buku kumpulan puisi.

Buku kumpulan puisi ini sangat jauh dari baik dan sempurna suatu puisi. Harapan penulis sumbang saran dan ide untuk terciptanya puisi-puisi yang hebat dengan diksi yang lebih mantap. Sehingga lahir puisi mahal dan sarat makna yang bisa jadi karya puisi dalam arti sesungguhnya.

Terima kasih tak terhingga pada keluarga, rekan kerja dan pada grup literasi terutama pada Bunda Miss yang dengan sabar membimbing dan memotivasi kami untuk senantiasa menulis dan terutama pada penulis sendiri untuk merampungkan puisi-puisi dan mengumpulkan sehingga terwujudlah buku kumpulan puisi ini.

Semoga buku kumpulan puisi ini bisa bicara sebagai sumbang ide tuk lahirnya penulis muda dan tuk merakyatnya dunia literasi yang kita dengungkan dan semoga gaungnya lebih indah dari kumpulan puisi ini. Aamiin.

Puncak Haji

Baju putih tak berwarna
Menutup tubuh sang makhluk
Berjalan menuju Robbnya
Tak ada makhluk pengganti
Sendiri dan harus sendiri
Harus tunduk dan pasrah
Iman yang berkata
Panas terik tak dirasa
Hanya ingat akan dosa
Tuk  mencari ridho-Nya

Berjuta  tertarik magnit
Magnit Ilahi yang maha dahyat
Semua menuju tak mau berpaling
Satu langkah tuk Robb pemilik alam
Pada Dzulhijjah bulan mulia
Dari penjuru dunia tuk raih sepuluh Dzuhijjah
Puncak hamba di wisuda di Arafah
Lepas matahari di puncak panas
Manusia di satu titik satu waktu satu tempat Padang Arafah
Padang Arafah bagai dipadang mahgsyar
Arafah masih ada naungan Allah lewat tenda
Adakah naungan di mahgsyar sesungguhnya
Semoga Arafah jadi saksi di padang mahgsyar kelak

Arafah di hujani air
Arafah dihembus angin
Arafah disapu debu
Bersama berbicara satu waktu
Menjerit berlari bertasbih
Mohon perlindungan
Allah masih sayang
Tak runtuh tenda naungan
Masih selamat dari ujian
Adakah nanti saatnya masih bisa selamat
Semoga Arafah jadi penyelamat

Puncak haji yang maha dahsyat
Ujian iman pada makhluk-Nya
Semoga jadi pelajaran berharga
Tak semua bisa merasakan
Tak semua bisa mendapatkan
Tak semua bisa datang
Tak semua dapat undangan
Tangis bahagia bagi tamu undangan
Undangan pribadi Allah
Tak semua di undang
Hanya manusia pilihan
Semoga Arafah pengantar jannah

Mekkah, 18 Agustus 2018


Kamis, 27 Juni 2019

Masih ada pelangi

Sejak suami pergi dari rumah kontrakan  dengan perempuan lain Bu Hana jadi orang tua tunggal. Dia ingat pertama  datang ke kontrakan suaminya bermaksud untuk mengunjungi tempat tugas suami yang baru yang sudah satu tahun pindah ke kota. Tapi kenyataan berkata lain. Dia harus menerima kenyataan suami bersama perempuan lain. Dia pertama datang ke kontrakan dihadapi pemandangan aneh, pertama kontrakan suaminya terlihat rapi seperti ada yang mengatur, kedua adanya botol-botol bekas kecantikan wanita, sementara dirinya baru bisa mengunjungi setelah satu tahun ajaran dan pada waktu libur kenaikkan kelas.

Selama empat hari berada di kontrakan suaminya matanya tidak diam dia mencari bukti yang pasti dan menyakinkan bahwa suaminya bermain perempuan lain. Pada saat hari keempat itu Bu Hana ingin membereskan lemari baju suaminya karena esoknya akan melanjutkan perjalanan menuju tempat tugasnya yang masih di daerah pelosok,  dan pada saat melihat tumpukan baju pada tahap ketiga dari atas dia heran tumpukan baju tidak rapi dan rada aneh tumpukannya. Tangan  Dia cepat mengambil tumpukan baju bagian tengah untuk dibereskan dan baru saja tumpukàn baju diangkat terlihat di belakang baju yang diambil ada tumpukan baju wanita, sontak Bu Hana kaget dengan padangan di depanya yang tak menyangka suami berani melakukan dibelakangnya dan hal itu di kontrakan selama setahun pindah.

Dia baru menyadari  uang tabungan yang dipinjam suami sampai habis apa ada hubungan nya dengan semua masalah yang dihadapi. Suaminya  pinjam uang tabungan yang niatnya untuk usaha sampai dihabiskan dan tak bersisa. Sekarang baru terjawab ternyata uangnya dipakai suaminya untuk foya-foya bersama perempuan itu. Memang pada saat minta tanda tangan untuk mengambil uang dengan alasan untuk usaha tapi kandas dan bersisa sandal sepasang itupun dengan ukuran besar dan tak mungkin bisa dipakai. Sandal itupun dibeli tetangga yang akhirnya di gratiskan.

Meninggalkan keluarga tidak ada kata terucap dari mulutnya di depan Bu Hana. Masalah anak, masalah harta dan masalah lainnya tak dibicarakan. Bu Hana dan kedua anak yang masih balita ditinggalkan begitu saja di daerah orang tanpa saudara dari kedua belah pihak. Selain tabungan pribadi  yang dihabiskan juga hewan piaraan yang dimiliki tak dapat bagian pula. Untung gaji Bu Hana bulan itu sudah mulai utuh karena selama hidup rumah tangga separoh gajinya dipotong pihak bank untuk  hutang suaminya, dan separoh sisanya untuk makan satu bulan itupun masih kurang.

Hidup rumah tangga Bu Hana seusia pinjaman di bank. Sebelum menikah SKnya dipinjam calon suaminya. Janjinya gajinya akan utuh. Kenyataannya setelah menikah lain, bukannya utuh tapi habis tak bersisa, setengah dipotong bank setengah untuk makan. Kehidupan rumah tangga semakin panas. Bu Hana selalu dibuat bingung dengan kenyataan hidupnya. Dia dan suami sama-sama kerja tapi hidup susah, dia masih harus kerja sampingan. Dagang makanan dan alat-alat tulis untuk anak-anak sekolah. Bu Hana kerja tapi untuk beli baju harus menunggu 3 bulan, untuk beli sepatu untuk kerjapun harus menunggu 3 bulan pula. Bu Hana menangis saat anak pertama lahir dibelikan celana untuk gantinya dari bahan yang berbeda antara kiri dan kanan alias dari obralan atau bahan sisa.

Kehidupan rumah tangga berjalan penuh onak dan duri. Duri menusuk dari belakang. Perempuan yang bermain dengan suaminya bekas murid suaminya. Bu Hana pun menganggap tamu kalau datang ke rumah. Tapi tidak tahu ada janji di belakang Bu Hana. Pindahnya suami ke kota ternyata untuk lebih leluasa menjalin hubungan, dan saling berkunjung. Bu Hana tahu dari tetangga kontrakan mantan suaminya. Perempuan itu sering berkunjung kalau sabtu sore, kadang juga Bapak sudah tidak ada Sabtu siang, kata tetangga. Tapi kenyataan sampai di tempat istrinya Minggu siang. Tanda tanya dibenak Bu Hana mulai terjawab.

Nasi sudah jadi bubur, ibarat jatuh ditimpa tangga. Itulah kenyataan hidup Bu Hana. Anak-anak masih kecil, jauh dari saudara. Dia tidak pindah dan keluar dari kontrakan bekas mantan suaminya. Semua barang yang ada di kontrakan mantan suaminya yang sudah hancur dibuang. Dia tidak punya apa-apa. Mulai hidup baru merintis dari sakit yang teramat sakit. Awal hidupnya mengandalkan uluran tangan orang. Hati remuk ditambah dua balita yang tak tahu apa-apa harus menelan obat pahit.

Tiga bulan hidupnya ikut dengan teman mantan suaminya yang baru dikenal.  Mantan suaminya dulu pindah katanya ikut dengan Dia tapi  ternyata tidak begitu. Mantan suami punya rencana lain. Kuliah tidak, usaha hancur tapi ternyata main perempuan. Hal itulah yang membuat teman mantan suaminya tidak terlalu dekat. Tapi yang dekat malah Bu Hana dan kedua balitanya. Bu Hana ibarat mendaoat payung saat hujan ketemu dengan keluarga teman mantan suaminya yang ternyata bernama Pak Badri dan Bu Eti. Mereka sangat baik walau masih hidup di perumahan sekolah tapi menerimanya dengan tangan terbuka.

Bu Hana hidup bagai bayi yang baru merangkak. Waktu berjalan dibuat obat hati dan membesarkan kedua balita. Kerjapun kadang diberi keringanan oleh kepala sekolah dimana dia mengajar. Tiga bulan hidup bersama keluarga Pak Badri terasa api yang membakar semangat hidupnya. Kini saatnya pulang ke kontrakan yang sudah ditinggalkan tiga bulan. Berbenah hidup tak cukup waktu sebentar. Bu Hana menjalani hidup hidup dengan penuh semangat walau menjelang malam berurai air mata mengingat nasib yang menimpanya, apalagi kalau memandang kedua balita yang tak berdosa tidur disampingnya.





Senin, 17 Juni 2019

Mendali

Pukul tujuh pagi dengan motor gigi mengantar si bungsu ke sekolah. Di jalan ketemu dengan penggarap sawah yang kebetulan akan pergi ke rumah saudaranya yang rumahnya searah dengan sekolah  si bungsu. Beliau meminta agar si bungsu dibawanya karena searah. Akhirnya si bungsu pergi sekolah bersama Bah Udung. Bah Udung nama penggarap sawah yang sudah lima tahun bekerja untuk menggarap sawah yang hasilna dibagi dua.

Ibunya langsung ke jalan raya dengan menembus antrian motor yang siap menuju tempat kerja masing-masing. Terpaksa pergi ke jalan raya dulu yaitu ke toko piala karena ada yang sangat penting yang harus dibereskan sebelum ke sekolah. Sampai toko yang dituju toko masih tutup karena jam di hp baru menunjukan pukul tujuh tiga puluh. Pagi-pagi terpaksa menuju toko yang menjadi satu-satunya harapan untuk memesan mendali peringkat kelas. Mendali peringkat adalah ide lama tapi baru teringat saat mendekati acara kenaikan kelas. Pesan mendadak itulah yang jadi pikiran karena takut tidak diterima sehingga tidàk bisa diberikan kepada para peringkat kelas. Hadiah buku yang sudah jadi tradisi tiap tahun memang sudah disiapkan. Untuk tahun ini ingin mencoba ada tambahan berupa mendali.

Sejak kemarin mencoba mencari toko yang biasa membuat mendali. Ada toko yang tidak sanggup karena waktunya terlalu singkat. Ada juga toko biasa buat mendali kejuaraan tapi tidak menerima mendali peringkat. Ada juga yang tutup karena hari minggu. Harapan ingin mengalungkan mendali pada para peringkat kelas akankah gagal?

Hari ini mencoba mendatangi toko yang kemarin hari  Minggu tutup. Harapan semoga mau menerima pesanan mendali walau waktu yang sempit. Mencoba perlu karena toko punya ciri masing-masing untuk mencari pelanggan. Pukul tujuh tiga puluh  sudah sampai di depan toko yang dimaksud dan ternyata masih tutup. Duduk-duduk di depan toko dengan harap bisa buka tepat waktu. Menunggu agak bosan. Sambil duduk menanyakan pada penjual baso yang mangkal di depan toko itu. Kata penjual baso sebentar lagi. Hampir satu jam menunggu tak kunjung buka juga. Ada penjual lotek yang baru datang tak lupa menanyakan tentang toko itu. Jawabnya sebentar lagi katanya.

Sedang asyik menulis di blogger terdengar suara kunci dibuka sontak menoleh toko itu dan melirik jam dijital pada hp menunjukan pukul delapan tiga puluh lima. Menunggu pelayan toko merapikan toko terasa agak lama. Ingin tahu jawaban langsung dari pelayan toko akan kesiapan menerima pesanan mendali peringkat terasa sangat lama. Toko sudah terlihat rapi ibu itu langsung menghampiri pelayan untuk pesan mendali  yang diharapkan. Pelayan kemudian menggunakan  hp untuk menghubungi pekerja yang menggarap mendali langsung. Agak lama juga pelayan itu menghubungi pekerja.

Sambil menunggu pelayan menghubungi pekerja, Ibu itu menulis pengalaman hari itu pada bloggernya. Sekali-kali berdoa agar pesanan mendali bisa siterima. Agak lama juga menunggu jawaban pasti. Ibu mulai cemas. Adakah mengalungkan mendali pada para peringkat akan gagal tahun sekarang. Saat anteng menulis pengalaman hari itu, tiba-tiba pelayan celetuk yang membuyarkan ide tulisannya.

"Bu, katanya bisa," Kata pelayan itu dengan penuh kesungguhan.
"Bisa Mba?" Kata ibu dengan nada tak percaya.
"Iya, bisa," jawab pelayan sambil senyum.
"Alhamdulillah, jadi juga membagikan mendali pada para peringkat," ucap ibu itu dengan penuh rasa syukur.


Jumat, 14 Juni 2019

Cilok

Tepung kanji bersatu dengan terigu
Diaduk dengan air hangat sampai lumat
Adukan harus kalis
Campuran harus seimbang
Agar adonan enak di lidah
Susah-susah mudah
Mudah-mudah susah
Banyak kanji jadi keras
Banyak terigu jadi lembek
Harus ada uji coba
Tak cukup sekali
Perlu diulang
Tuk hasil yang mantap
Plus istimewa
Cilok idola
Jadi satu usaha
Janjikan asa
Warnai pelangi
Indahnya dunia bisnis
Cilok cilok cilok
Sudah familier
Dikalangan halayak
Satu makanan ringan
Cobaku buatan sendiri
Entah kali berapa
Hasil belum mantap
Masih ada kurangnya
Tak mudah walau sederhana
Butuh hati tuk mengolahnya
Agar satu rasa
Cilok

Sabtu, 15 Juni 2019, 07 : 21
Pengalaman buat cilok yang belum juga mencapai rasa istimewa


Sarung

Lebaran sebentar lagi. Amir ingin punya sarung baru dari uangnya sendiri. Kebetulan dia dapat thr dari tetangganya yang kebetulan teman dari orang tuanya. Dia ingat ibunya tidak akan membelikan sarung karena masih ada yang warna hitam.

"Mah, Ade pingin beli sarung yang warna coklat tapi dari uang Ade," katanya merajuk pada Ibunya.
"Ya, tapi rada siang waktunya," jawab Ibu yang lagi mencuci baju.
"Mamah tidak usah bawa uang Ade punya uang sendiri," jelas Ade menyakinkan.
"Iya ," jawab ibunya pendek

Mendengar jawaban Ibunya, Amir segera mandi. Usai mandi terlihat dia menggunakan celana coklat muda dan kaos kuning. Tak lupa jaket biru kesayangannya membalut tubuhnya tuk melindungi dari angin. Setelah menjemur cucian ibunya siap-siap membersihkan diri dan ganti baju. Batik warna orange senada dengan celana warna orange pula. Tak ketinggalan jaket, masker dan kaos tangan sebagai pelengkap mengendarai motor.

Jam 10 an mereka dengan motor hitam keluaran lama menyusuri gang dan keluar menembus udara Desa Sukasarana. Jalanan yang sudah tidak bersahabat. Macet tak bisa di kompromi. Mendekati lebaran para pembeli semakin membludak. Ibu dan menembus macet dan menyusuri beberapa untuk sampai toko yang menjual sarung.

Sampai di depan toko yang penuh dengan motor dan mobil menyulitkan untuk parkir. Petugas parkir membantu tuk memarkirkan motor.

"Mah, uang ya tidak ada di saku," sela Amir saat ibunya melepaskan helm.
"Memangnya disimpan dimana?" jawab ibu dengan rasa heran.
"Mamah bawa uang tidak?" ucap Amir menyakinksn ibunya.
"Ayo masuk," ajak ibunya masuk toko.

Amir heran melihat ibunya mengajak masuk. Dia menyuruhnya ibunya tidak usah bawa uang. Sementara uang yang dimiliki tidak ada di dalam saku.

Kamis, 13 Juni 2019

Lagu Hari Jumat

 Hari Jumat Amir sudah diingatkan ibunya tuk sholat jumat dari sejak pagi. Kebetulan hari ini tidak sekolah karena sudah dianggàp lulus dari sekolah dan tinggal menunggu kenaikan kelas dan masuk sekolah yang lebih tinggi.

Hari-hari libur digunakan bercanda dengan kakak laki-lakinya yang baru mau masuk kuliah dan juga kakak perempuan yang sudah kuliah tingkat 3 di Kota Kembang. Liburan di isi dengan menonton film di leptop yang mereka downlod, terkadang asyik main game di hp. Keasyikan mereka berkumpul terkadang lupa akan main di luar rumah.

Hari libur ini bertepatan dengan libur Hari Raya Idul Fitri. Meja tamu, meja belakang dan lemari tempat kue masih banyak toples tertutup dan berpenghuni. Kue dalam toples satu persatu di lahapnya dan dengan cepat menjadi kosong. Kue kaleng berisolasipun di paksa tuk terbuka hingga bersisa satu dua potong kue. Suasana yang tak akan berulang lama, karena mereka besar pun tak akan seperti itu lagi.

Pukul 11 lebih kakak laki-laki masih asyik dengan tidurnya, Amir masih asyik main game di hpnya. Ibunya  mengamati tingkah mereka dengan membaca buku di pojok baca yang ada di ruang tamu. Pojok baca diciptakan untuk anak-anaknya agar suka baca juga selain senang main game, tapi terlihat belum merasa butuh dengan bacaan.

Minat baca buku memang sudah sangat jarang diminati anak-anak, mereka lebih suka baca game dengan cara memainnya. Semoga ke depan ada anak-anak generasi bangsa menciptakan game yang mengandung bacaan sehingga tak sengaja mereka yang main juga baca tulisan.

"Ade, jam berapa!" Ibunya mengingatkan
"Ya," jawabnya dengan pendek

Ibunya masih asyik baca buku pedoman penulisan Bahasa Indonesia yang ada di bagian belakang Kamus Bahasa Indonesia, kebetulan ada surat yang dikirim operator sekolah lewat whatshaap yang harus diperiksa cara penulisannya sesuai dengan EYD. Mata membaca tangan membuka lembar demi lembar buku tapi tak diam mata dan mulut mengamati tingkah anak laki-lakinya yang masih asyik di tempatnya.

"Adeeee!" suara ibunya mulai meninggi.

Kakaknya mulai henyak dari tidur di kursi panjang ruang tamu, Amir masih ngorek hp sambil mata melirik ibunya. Kakak masuk kamar dan langsung ke kamar mandi. Amir dengan dibelit handuk malah duduk sambil membuka toples dan asyik makan isinya.

"Ade!" Ibunya bersuara dengan mata melotot ke arahnya.
"Nunggu Aa di kamar mandi," jawabnya singkat sambil makan kripik pisang.

Usai kakaknya mandi adiknya langsung bergegas menuju kamar mandi. Ibu terlihat senang si bungsu sudah mulai mandi. Tapi duduknya dengan sambil baca belum tenang karena anak-anaknya belum berangkat ke masjid. Waktu sudah pukul 11.29 tapi belum terlihat si bungsu lewat menuju kamarnya. Ibunya mulai resah dalam duduknya.

"Adeeeee! Ibunya dengan suara agak keras sambil berjalan menuju ke kamar mandi.

Terdengar suara air baru disiramkan ke tubuhnya. Ibu terlihat sangat kesel karena melihat si bungsu di kamar mandi sangat lama, dan baru mandi karena ditegur ibunya.

"Adeeeee! lagu hari Jumat masih saja.






Rabu, 12 Juni 2019

Tak diterima di sekolah terdekat

Menengok kebelakang ada baiknya dan juga penting, ini bisa digunakan untuk tidak mengulangi kesalahan yang serupa toh kalau itu dianggap salah dan kadang harus diulang atau mungkin sangat harus kalau itu dianggap menguntungkan berbagai pihak.
Hal ini berkenaan dengan sekolah yang sekarang sangat hangat diperbincangkan oleh orang tua terutama ibu-ibu yang sangat dekat dengan anaknya. Aturan zonasi yang berdàmpàk baik karena untuk meratakan peserta didik supaya tidak menumpuk di salah satu sekolah apalagi yang dianggap favorit. Tapi bagi sebagian orang tua dianggap merugikan karena memberi ruang sempit untuk anaknya melanjutkan sekolah. Aturan tidak sertà merta akan diterima secara utuh baik oleh pihak sekolah selaku penyelenggara langsung pendidikan atau pun orang tua yang langsung merasakan langsung aturan itu. Banyak kendala dan benturan saat aturan itu diterapkan
Masalah melanjutkan pendidikan tak akan pernah selesai selama masih ada yang anak yang melanjutkan sekolah. Hal ini sudah sangat terasa sejak dahulu kala. Ada cerita tentang melanjutkan sekolah tapi bukan masalah zonasi karena dahulu belum kenal istilah zonasi. Ada anak bernama Sahla dia putra sulung dari seorang guru yang mengajar di sebuah sekolah dasar. Sahla sendiri lulusan TK yang tak murah di kecamatan itu dan sudah mampu baca buku dan siap lanjut Al Quran karena sudah lulus iqro 6, ditambah mendapat peringkat satu di TK tersebut. Melihat usia 6 tahun lebih bila dilihat dari awal masuk tahun ajaran baru. Masalah yang dihadapi ibunya mendaftarkan Sahla di tempat dia mengajar tapi tidak diterima oleh kepala sekolahnya. Apa kendalanya?
Dengan desakan dan argumen yang tak sedikit akhirnya kepala sekolah baru mau menerimanya itu pun dengan urutan hampir jadi pendaftar terakhir, sangat sedih.
Ada cerita yang dialami Hana yang tak diterima di sekolah yang letaknya dekat dengan rumahnya, kurang lebih 100m. Melihat usia sudah mendekati tujuh tahun, usia yang sudah sangat cukup dari seharusnya. Tapi alasan apa yang menjadi ganjalan tidak bisa diterima di sekokah tersebut Hana sendiri tidak tahu. Mendekati usia 8 tahun Hana pun di di daftarkan di sekolah yang jauh dengan jarak kurang lebih 1km dan harus menyebrang jalan kabupaten. Sangat ironis memang. Pengalaman ini juga dialami  oleh teman Hana yang rumahnya bersebelahan, terpaksa sekokahnyapun lebih jauh lagi dari Hana.
Konten hampir sama dengan masalah berbeda dan alasan berbeda.
Masalah pendidikan dibuat mudah jadi mudah, dibuat sulit jadi tambah pelik. Semoga tidak dialami anak-anak kita dijaman sekarang.

Keluarga Mulia

Putar vidio kiriman di grup wa
Sebuah keluarga besar dengan lima anak-anaknya
Seorang Bapak usia empat puluh tahun lebih sebagai sopirnya
Dibelakang sopir seorang ibu dengan menidurkan sibungsu di pangkuannya
Disebelahnya anak perempuan sebagai anak ketiga
Terbesar laki-laki usia kuliahan
Kedua laki-laki sekitar smp duduk dibelakang
Bersama dia pengais bungsu juga laki-laki
Terlihat di bagasi tumpukan tas
Lukisan akan mudik atau pulang mudik
Bapak mengawali qiroah surat Ad Dhuha
Melempar ayat berikutnya tuk dilanjutkan oleh putra-putranya
Lemparan pertama pada  pengais bungsu
Merdu sekali suaranya
Dilanjutkan perempuan anak ketiga
Juga enak didengar lantunannya
Tangkap oleh sang ibu juga luar biasa merdunya
Diteruskan putra sulung tak kalah indahnya
Estavet pada adiknya dengan lengkingan wah merdu nian
Kembali pengais bungsu
Penutup mereka bersama-sama melantunkan ayat terakhur
Sang Bapak pelempar ayat Al Quran
Bapak hebat mendidik keluarga pandai qiroah
Pencetus ide luar biasa
Jadi contoh keluarga dambaan surga

Kamis, 13 Juni 2019, 06 : 49



Senin, 10 Juni 2019

Kulit

Bisa mulus bisa juga brantakan
Ada warna yang sangat indah
Banyak yang menarik tak sedikit bikin kecewa
Duri juga tak bisa sembunyi
Bisa nyata kadang juga maya

Peran penting dan sangat penting
Tak bisa di abaikan begitu saja
Membawa ke tempat terhormat
Kadang terlempar dari keramaian
Kadang buat mata sebelah terpejam

Menutupi kurang yang nyata
Menyamarkan isi hingga buat tanda tanya
Mengelabui mereka yang tak tahu
Memoles isi agar sempurna

Buat orang penasaran
Menarik orang tuk ingin tahu
Membuat orang ingin memiliki
Buat yang rakus ingin menguasai

Kadang buat orang terkecoh
Mungkin ada sesal walau sedikit
Muncul juga rasa heran
Tak sedikit sifat biasa saja

Kulit buat penting
Bisa juga jadi wajar
Tak sedikit jadi istimewa
Ada juga anggap biasa

Nasib kulit bertemu teman
Teman jadi penting agar kulit juga penting
Teman biasa kulit dianggap wajar
Teman jahat hanya jadi pelindung
Teman jelek hanya jadi pembungkus

Adakah nasib kulit indah selamanya
Isi indàh terpancar lewat kulit jadi menawan
Isi istimewa hingga terlindung selamanya
Harap hati mulia tertutup ràga nan menawan

Semoga nasib kulit jadi berharga
Mahal karena isi luar biasa
Banyak dicari karena sudah langka
Dinanti karena menyejukkan hati

Selasa, 11 Juni 2019, 05 : 53

Minggu, 09 Juni 2019

Jalan Pagi

Badan sudah tak bersahabat
Dingin merayap sekujur tubuh
Jari jemari sudah agak kaku
Kesemutan sudah acap kali hadir
Tak bisa lama tangan pegang sesuatu
Kesemutan lagi dan lagi
Eksekusi waktu tuk cari keringat
Mengukur gang dekat rumah
Menyusuri gang demi gang
Bersamaan juga sapa tetangga
Gang obat sekujur tubuhku
Jalan pagi menyusuri gang
Aman dari kendaraan
Murah tak harus jauh
Gang juga media olah raga
Yang utama mau tuk bergerak
Keluar rumah langsung jalan
Tak perlu banyak persiapan
Sandal capit daster jadi
Khas ibu-ibu dapur
Rumah beres olah raga oke
Hadi basah akhirnya
Keringat hadir hasil undangan
Beres jalan segar bugar
Enak dan ringan
Semoga kesemutan berangsur hilang
Sehat akhir tujuan

Senin, 10 Juni 2019, 07 : 40
Usaha dari kolesterol

Batu Nisan

Masuk arena pemakaman akbar
Batu nisan bederet rapi
Aneka warna dan tulisan
Dari kelas mewah sampai kelas biasa
Jumlah ratus mungkin ribu
Sangat padat sekali
Saling berhimpitan
Mereka dimuliakan keluarga
Ditempatkan dengan selayaknya
Adakah kita kan seperti mereka?
Tak bisa dan tak ada jawabnya
Hanya budi dan laku kita
Tuk jadi jaminan tempat mulia

Rasa takut rasa sedih rasa haru bercampur
Baru lihatku tempat istirahat
Besar dan padat
Ada di kanan kiri jalan
Jalan diantara mereka
Mereka seperti menonton kita
Sedih kita bila mereka tenang disana
Tapi bila mereka menangis
Mereka butuh doa kita
Doa kita anak-anaknya

Ada pemandangan lain disana
Ramai nian insan lalu lalang
Aneka rupa aktifitas
Jual bunga dan air tuk ziara
Makanan tuk pengganjal para peziarah
Tak sedikit anak-anak bermain disana
Ramai nian tempat pemakaman
Tak jadi takut adanya
Entah apa gerangan jadi demikian
Tak tahu apa dan rupa apa
Hanya batu nisan jadi saksi
Tuk akhir ditanya Sang Ilahi

Kamis, 13 Juni 2019, 08 : 05


http://www.pramukacianjur.or.id/2020/11/edaran-kursus-keterampilan-berbasis-it.html   Kwarcab Cianjur hari ini Rabu masih berangsung Kursus ...